Rabu, Januari 21, 2015

Shalat

Dosa Meninggalkan Solat Fardhu :

1. Solat Subuh : satu kali meninggalkan akan dimasukkan ke dalam neraka selama 30 tahun yang sama dengan 60.000 tahun di dunia.

2. Solat Zuhur : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan membunuh 1.000 orang umat islam.

3. Solat Ashar : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan menutup/meruntuhkan ka’bah.

4. Solat Magrib : satu kali meninggalkan dosanya sama dengan berzina dengan orangtua.

5. Solat Isya : satu kali meninggalkan tidak akan di redhai Allah SWT tinggal di bumi atau di bawah langit serta makan dan minum dari nikmatnya.

6 Siksa di Dunia Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu :

1. Allah SWT mengurangi keberkatan umurnya.

2. Allah SWT akan mempersulit rezekinya.

3. Allah SWT akan menghilangkan tanda/cahaya soleh dari raut wajahnya.

4. Orang yang meninggalkan solat tidak mempunyai tempat di dalam islam.

5. Amal kebaikan yang pernah dilakukannya tidak mendapatkan pahala dari Allah SWT.

6. Allah tidak akan mengabulkan doanya

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu Ketika Menghadapi Sakratul Maut

1. Orang yang meninggalkan solat akan menghadapi sakratul maut dalam keadaan hina.
2. Meninggal dalam keadaan yang sangat lapar.
3. Meninggal dalam keadaan yang sangat haus.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu di Dalam Kubur :

1. Allah SWT akan menyempitkan kuburannya sesempit sempitnya.
2. Orang yang meninggalkan solat kuburannya akan sangat gelap.
3. Disiksa sampai hari kiamat tiba.

3 Siksa Orang yang Meninggalkan Solat Fardhu Ketika Bertemu Allah :

1. Orang yang meninggalkan solat di hari kiamat akan dibelenggu oleh malaikat.
2. Allah SWT tidak akan memandangnya dengan kasih sayang.
3. Allah SWT tidak akan mengampunkan dosa dosanya dan akan di azab sangat pedih di neraka.

Mengenai balasan bagi orang yang meninggalkan Solat Fardu:

“Rasulullah SAW, diperlihatkan pada suatu kaum yang membenturkan kepala mereka pada batu, Setiap kali benturan itu menyebabkan kepala pecah, kemudian ia kembali kepada keadaan semula dan mereka tidak terus berhenti melakukannya. Lalu Rasulullah bertanya: “Siapakah ini wahai Jibril”? Jibril menjawab: “Mereka ini orang yang berat kepalanya untuk menunaikan Solat fardhu”. (Hadits Riwayat Tabrani, sanad shahih)

 

Sumber: http://khaulah-azwar.blogspot.c om

Jumat, Januari 02, 2015

Mandi Wajib, Sudah benarkah kita melakukannya?


Mandi Wajib, Sudah Benarkah Kita Melakukannya?
02 Januari 2015 | Dibaca : 68187 Kali | Ragam

Sahabat Ummi, Islam mengajarkan kita untuk mencintai kebersihan, selalu menghindarkan diri dari hal najis dan membersihkan diri dari hadats kecil maupun besar. Namun sayangnya, banyak di antara umat Islam yang masih belum paham cara membersihkan diri sesuai tata cara serta ajaran Rasulullah, padahal itu menjadi salah satu syarat sah nya shalat kita.

Terutama mengenai mandi besar atau mandi wajib, setiap wanita yang sudah selesai haid, laki-laki yang mengalami mimpi basah, pasangan suami istri yang melakukan hubungan intim, seseorang yang baru saja masuk Islam, semuanya diwajibkan untuk mandi, namun bukan sembarang mandi, ada tata cara dan sunah-sunahnya.

Dikarenakan pentingnya perkara wajib ini, semoga para suami mau menerangkan pada istrinya, para ibu mau menerangkan pada putra-putrinya yang akan baligh, berikut ini pembahasannya, semoga bermanfaat:

Berniat mandi wajib

Jangan sekadar mandi tanpa didahului niat untuk membersihkan hadats besar! Cukup banyak orang melakukan kesalahan karena tidak mendahului dengan niat yang tepat. Mandi wajib tidaklah sama dengan sekadar mandi biasa, meskipun sama-sama membasahi seluruh rambut dan tubuh.

Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (Riwayat Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

 Rukun Mandi

Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.

Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,

"Dahulu, jika Rasulullah SAW. hendak mandi janabah (junub), beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk salat. Lalu beliau mengambil air dan memasukkan jari - jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau mengguyur seluruh badannya. Kemudian beliau membasuh kedua kakinya." (HR. Muslim)

 

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (Riwayat  Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,

“Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (Riwayat Muslim no. 330)

 Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.

 Tata Cara Mandi yang Sempurna

Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna.

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah,  Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (Riwayat Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

 Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

 Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”

 Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

 Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun. An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (cebok/ membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”

 Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci? Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.” 

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

 Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.

 Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha disebutkan,

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (Riwayat  Bukhari no. 272)

Juga ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan,

“Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (Riwayat Bukhari no. 277)

 

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (Riwayat  Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

 

Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?

Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas, sedikit tambahan untuk mandi wajib setelah haid:

“Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.” (Riwayat  Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Dalam mandi junub tidak disebutkan “menggosok-gosok dengan keras”. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.

Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

 

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?

Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (Riwayat Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,

Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauqu])

 Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.

Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu

Senin, Desember 15, 2014

Binte Biluhuta

Resep : Sajian Sedap

Binte biluhuta adalah salah satu nama masakan asal Sulawesi Utara. Masakan yang terbuat dari jagung manis yang dipipil, udang kupas, dan kelapa parut. Tak ada salahnya anda mencoba menyajikan masakan dari dapur Gorontalo ini.

Bahan-bahan/bumbu-bumbu :

2 buah jagung manis (550 gram), dipipil
2.000 ml air
1 buah cabai merah, diiris bulat
4 buah cabai rawit merah, diiris bulat
6 butir bawang merah, diiris tipis
200 gram udang kupas
2 1/2 sendok teh garam
2 1/2 sendok teh gula pasir
75 gram kelapa parut kasar
1 sendok makan air jeruk nipis
5 tangkai kemangi, diambil daunnya
2 buah tomat, dipotong-potong

Cara Pengolahan :

Rebus air, jagung manis, cabai merah, cabai rawit merah, dan bawang merah sampai mendidih.
Tambahkan udang, garam, dan gula pasir. Masak sampai matang.
Masukkan kelapa parut, air jeruk nipis, dan daun kemangi. Masak sampai matang.
Menjelang diangkat, tambahkan tomat. Aduk rata.
Untuk 8 porsi


Atau resep dari masakan Gorontalo.com
Tuesday, 30 September 2014

Bahan Binte Biluhuta :
2 buah jagung manis, pipil
200 gram udang kupas
200 gram ian tongkol atau tuna, bakar, suwir-suwir dagingnya
½ butir kelapa setengah tua, kupas, parut memanjang
1 buah jeruk nipis, ambil airnya
5 buah belimbing wulu, potong bulat tipis
1 buah tomat, potong-potong
1 batang bawang daun, potong 1 cm
1 ikat kemangi, ambil daunnya
1,5 liter air

Bumbu Binte Biluhuta :

8 butir bawang merah, iris tipis
2 buah cabai merah, iris bulat tipis
6 buah cabai rawit merah, iris bulat tipis
2 sdt garam
2 sdt gula pasir

Cara Membuat Binte Biluhuta :

Siapkan panci. Masukkan air, bawang merah, jagung manis, cabai merah, dan cabai rawit. Masak hingga mendidih.
Masukkan udang, ikan tongkol, garam dan gula pasir. Masak hingga udang matang.
Masukkan kelapa parut, air jeruk nipis, dan belimbing wuluh. masak hingga mendidih kembali.
Masukkan tomat, bawang daun, dan daun kemangi, aduk sebentar, angkat.
Sajikan Binte Biluhuta.

Kapurung

Resep Masakan Praktis
Kapurung 
Sumber: NN
Copas : DuniaIbu.com
Bumbu
garam, cabe rawit hijau, tomat rebus, semua diulek halus
5-6 bh jeruk limau, dibelah, diperas airnya

Bahan
ayam pejantan, ambil dadanya, dibakar sedikit, suwir-suwir, sisihkan

Sayur-sayuran
kangkung/daun pakis/daun mandrak/daun labu/daun katuk
jantung pisang diiris tipis
kacang panjang dipotong-potong
jagung disisir
terong bulet dibelah 4 [jangan sampai putus]
terong ungu dipotong-potong

Cara
1. Didihkan air panas, masukkan semua sayuran dan ayam yang sudah disuwir, rebus sampai matang.

2. Sementara itu, siapkan tepung sagu aren [ini mesti asli dari sana, kata mama mertuaku kalau yang dijual di sini rasanya beda]. Tepung sagu kira2 segelas, terus dicairkan dengan air dua gelas, aduk sampai halus, taruh di baskom besar.

3. Didihkan air panas dan langsung dimasukan ke cairan sagu tadi jangan diaduk, sampai menyatu semua [tandanya permukaannya memutih],
baru diaduk [wah ini bagian yang paling ribet] aduk sampai menyatu semua, jadi adonan kayak dodol gitu.

4. Siapkan baskom lain, isi air dingin, jangan penuh2 1/4 baskom cukup. Bulatkan adonan sagu tadi pakai sumpit, setiap bulatan dimasukan ke baskom yang isi air dingin tadi. Kalau susah pakai sumpit, pakai sendok saja.

5. Kalau sayur dan ayam sudah matang, matikan api, tunggu adonan sagu sudah selesai dibulat2. Kalau sudah, masukan bumbu halus ke
dalam panci sayur tadi, aduk rata, masukan juga air jeruk limau lebih banyak lebih wangi

6. Selanjutnya, setelah sayur dan ayam sudah matang, matikan api, aduk rata.

7. Setelah sayuran siap, masukkan ke dalam baskom yang isinya adonan sagu tadi, aduk rata. Siap dihidangkan.

Rabu, Desember 10, 2014

Chicken Roll

Chicken roll mambo
by.aiiuwidi ;)

Bahan :
200gr daging ayam cincang halus
200gr daging ayam dipotong kotak
50gr lemak ayam dipotong halus
100gr terigu
2 butir telur
2 sdm SKM

Bumbu :
1 sdt gula pasir
1 sdt garam halus
1 sdm kecap asin
1 sdt merica bubuk
1 sdm maizena
1 sdm saus tiram
1 sdm minyak wijen

Baluran :
5 sdm terigu
2 sdm SKM
tepung panir secukupnya

Pelengkap :
plastik es mambo / es lilin utk ngukus + corong

Cara membuat:
1. Masukkan semua bahan dalam 1 wadah, aduk rata.
2. Masukkan semua bumbu kedalam wadah, aduk rata. (maizena terakhir).
3. Setelah semua bahan tercampur rata, masukkan kedalam plastik es mambo.
4. Kukus dengan api besar ±15menit. (tusuk-tusuk plastik dengan tusuk gigi, supaya uapnya masuk kedalam).
5. Keluarkan dari plastik, lalu dipotong serong.
6. Siapkan adonan utk baluran, terigu+skm dikasi air sedikit, aduk pakai sendok, (tekstur mirip mayones)
7. Gulingkan ditepung panir, lalu goreng dengan minyak sedang.
Selesai deh, selamat mencoba

Selasa, Desember 09, 2014

Pempek Nasi

Sarapan untuk anak2 termasuk keharusan bagi saya, supaya mereka bisa beraktivitas dan tidak jajan sembarangan, masalahnya kadang kagak sempat masak yang macem2 karena…biasalah mak2 sok sibuk hiksss
Biasanya menu sarapan yaa yg praktis2 saja…Nasi goreng, mie goreng, seblak, Sosis atau martabak mie…
Nah ini ada yg lain l;agi “Pempek Nasi” bahan utamanya sisa Nasi tadi Malam, heheeee….

Bahan:

2 mangkok gr nasi putih
2 gelas air
kira2 300 gram terigu
satu sendok makan garam halus
1  sendok makan gula pasir
5 siung bawang putih dihaluskan
lada halus secukupnya
telur satu butir (boleh tidak pakai)
minyak goreng secukupnya
200 gr sagu tani atau sampai adonan kalis dan bisa dibentuk

Cara Membuat:
1.    Campurkan nasi, air, garam, bawang putih halus, , lada ke dalam panci. Masak sambil diaduk-aduk hingga tercampur rata  
2.    kemudian masukkan terigu dan aduk lagi sampai rata dan adonan lengket menyatu. Matikan api.
3.    Masukkan minyak goreng, aduk. Masukkan telur, aduk lagi hingga tercampur rata. Tunggu hingga adonan dingin.
4.    Masukkan sagu tani sedikit demi sedikit hingga adonan kalis dan bias dibentuk
5.    Olesi telapak tangan dengan sagu tani agar adonan tidak lengket di tangan. Ambil satu sendok makan adonan.
6.    Bentuk adonan seperti pada foto berikut ini
Lubangi adonan dengan jari telunjuk
7.    Isi dengan telur, setengahnya saja jangan sampai penuh
8.    Tutup dan bentuk menjadi pempek telur kecil
9.    Rebus hingga mengambang di air mendidih yang dicampur 1 sdm minyak goreng.
10.  Angkat pempek, dan tiriskan.

11.  Bisa langsung dimakan atau di goreng lebih dulu. Hidangkan dengan Cuka atau kuah kacang

Senin, Desember 08, 2014

Ikan Mas Rebung Asam

"Ikan Mas Rebung Asam" jadi inget Bunda Yuliati duluuuu kita suka makan ini di simpang Muara Pinang hehehe. ..

#edisiNgenalinF3denganMakananDusun
Bahan:
500 gram rebung yang sudah diasamkan, potong seperti batang korek api
100 gram Ikan Mas, potong kotak
2 papan petai, kupas, belah
2 batang daun bawang, potong 1 cm
1,5 liter santan dari 1 butir kelapa

Bumbu yang dihaluskan:
12 butir bawang merah
6 siung bawang putih
10 buah cabai merah keriting
3 cm kunyit
1 sdm garam

Bumbu lainnya:
3 lembar daun salam
1 batang serai, memarkan
3 cm jahe, memarkan
4 cm lengkuas, memarkan
4 buah asam kandis

Cara Membuat:
Rebus santan sambil diaduk-aduk hingga mendidih.
Masukan bumbu yang dihaluskan dan bumbu lainnya, lalu aduk hingga mendidih kembali.
Masukan rebung, ikan, dan petai, lalu masak hingga setengah matang.
Tambahkan daun bawang, lalu masak hingga semua bahan matang.

Angkat dan sajikan.