Jumat, Januari 02, 2015

Mandi Wajib, Sudah benarkah kita melakukannya?


Mandi Wajib, Sudah Benarkah Kita Melakukannya?
02 Januari 2015 | Dibaca : 68187 Kali | Ragam

Sahabat Ummi, Islam mengajarkan kita untuk mencintai kebersihan, selalu menghindarkan diri dari hal najis dan membersihkan diri dari hadats kecil maupun besar. Namun sayangnya, banyak di antara umat Islam yang masih belum paham cara membersihkan diri sesuai tata cara serta ajaran Rasulullah, padahal itu menjadi salah satu syarat sah nya shalat kita.

Terutama mengenai mandi besar atau mandi wajib, setiap wanita yang sudah selesai haid, laki-laki yang mengalami mimpi basah, pasangan suami istri yang melakukan hubungan intim, seseorang yang baru saja masuk Islam, semuanya diwajibkan untuk mandi, namun bukan sembarang mandi, ada tata cara dan sunah-sunahnya.

Dikarenakan pentingnya perkara wajib ini, semoga para suami mau menerangkan pada istrinya, para ibu mau menerangkan pada putra-putrinya yang akan baligh, berikut ini pembahasannya, semoga bermanfaat:

Berniat mandi wajib

Jangan sekadar mandi tanpa didahului niat untuk membersihkan hadats besar! Cukup banyak orang melakukan kesalahan karena tidak mendahului dengan niat yang tepat. Mandi wajib tidaklah sama dengan sekadar mandi biasa, meskipun sama-sama membasahi seluruh rambut dan tubuh.

Dalam hadits dari ‘Umar bin Al Khattab, Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (Riwayat Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907)

 Rukun Mandi

Hakikat mandi adalah mengguyur seluruh badan dengan air, yaitu mengenai rambut dan kulit.

Inilah yang diterangkan dalam banyak hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di antaranya adalah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang menceritakan tata cara mandi Nabi Shallallahu Alaihi Wa Sallam,

"Dahulu, jika Rasulullah SAW. hendak mandi janabah (junub), beliau memulai dengan membasuh kedua tangannya. Kemudian menuangkan air dari tangan kanan ke tangan kirinya lalu membasuh kemaluannya. Lantas berwudhu sebagaimana berwudhu untuk salat. Lalu beliau mengambil air dan memasukkan jari - jemarinya ke pangkal rambut. Hingga beliau menganggap telah cukup, beliau tuangkan ke atas kepalanya sebanyak 3 kali tuangan. Setelah itu beliau mengguyur seluruh badannya. Kemudian beliau membasuh kedua kakinya." (HR. Muslim)

 

Dari Jubair bin Muth’im berkata, “Kami saling memperbincangkan tentang mandi janabah di sisi Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, lalu beliau bersabda,

أَمَّا أَنَا فَآخُذُ مِلْءَ كَفِّى ثَلاَثاً فَأَصُبُّ عَلَى رَأْسِى ثُمَّ أُفِيضُهُ بَعْدُ عَلَى سَائِرِ جَسَدِى

“Saya mengambil dua telapak tangan, tiga kali lalu saya siramkan pada kepalaku, kemudian saya tuangkan setelahnya pada semua tubuhku.” (Riwayat  Ahmad 4/81. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Bukhari Muslim)

Dalil yang menunjukkan bahwa hanya mengguyur seluruh badan dengan air itu merupakan rukun (fardhu) mandi dan bukan selainnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah. Ia mengatakan,

“Saya berkata, wahai Rasulullah, aku seorang wanita yang mengepang rambut kepalaku, apakah aku harus membuka kepangku ketika mandi junub?” Beliau bersabda, “Jangan (kamu buka). Cukuplah kamu mengguyur air pada kepalamu tiga kali, kemudian guyurlah yang lainnya dengan air, maka kamu telah suci.” (Riwayat Muslim no. 330)

 Dengan seseorang memenuhi rukun mandi ini, maka mandinya dianggap sah, asalkan disertai niat untuk mandi wajib (al ghuslu). Jadi seseorang yang mandi di pancuran atau shower dan air mengenai seluruh tubuhnya, maka mandinya sudah dianggap sah.

Adapun berkumur-kumur (madhmadhoh), memasukkan air dalam hidung (istinsyaq) dan menggosok-gosok badan (ad dalk) adalah perkara yang disunnahkan menurut mayoritas ulama.

 Tata Cara Mandi yang Sempurna

Berikut kita akan melihat tata cara mandi yang disunnahkan. Apabila hal ini dilakukan, maka akan membuat mandi tadi lebih sempurna.

Dari Ibnu ‘Abbas berkata bahwa Maimunah mengatakan, “Aku pernah menyediakan air mandi untuk Rasulullah,  Lalu beliau menuangkan air pada kedua tangannya dan mencuci keduanya dua kali-dua kali atau tiga kali. Lalu dengan tangan kanannya beliau menuangkan air pada telapak tangan kirinya, kemudian beliau mencuci kemaluannya. Setelah itu beliau menggosokkan tangannya ke tanah. Kemudian beliau berkumur-kumur dan memasukkan air ke dalam hidung. Lalu beliau membasuh muka dan kedua tangannya. Kemudian beliau membasuh kepalanya tiga kali dan mengguyur seluruh badannya. Setelah itu beliau bergeser dari posisi semula lalu mencuci kedua telapak kakinya (di tempat yang berbeda).” (Riwayat Bukhari no. 265 dan Muslim no. 317)

 Dari dua hadits di atas, kita dapat merinci tata cara mandi yang disunnahkan sebagai berikut.

 Pertama: Mencuci tangan terlebih dahulu sebanyak tiga kali sebelum tangan tersebut dimasukkan dalam bejana atau sebelum mandi.

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah mengatakan, “Boleh jadi tujuan untuk mencuci tangan terlebih dahulu di sini adalah untuk membersihkan tangan dari kotoran … Juga boleh jadi tujuannya adalah karena mandi tersebut dilakukan setelah bangun tidur.”

 Kedua: Membersihkan kemaluan dan kotoran yang ada dengan tangan kiri.

 Ketiga: Mencuci tangan setelah membersihkan kemaluan dengan menggosokkan ke tanah atau dengan menggunakan sabun. An Nawawi rahimahullah mengatakan, “Disunnahkan bagi orang yang beristinja’ (cebok/ membersihkan kotoran) dengan air, ketika selesai, hendaklah ia mencuci tangannya dengan debu atau semacam sabun, atau hendaklah ia menggosokkan tangannya ke tanah atau tembok untuk menghilangkan kotoran yang ada.”

 Keempat: Berwudhu dengan wudhu yang sempurna seperti ketika hendak shalat.

Asy Syaukani rahimahullah mengatakan, “Adapun mendahulukan mencuci anggota wudhu ketika mandi itu tidaklah wajib. Cukup dengan seseorang mengguyur badan ke seluruh badan tanpa didahului dengan berwudhu, maka itu sudah disebut mandi (al ghuslu).”

Untuk kaki ketika berwudhu, kapankah dicuci? Jika kita melihat dari hadits Maimunah di atas, dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau membasuh anggota wudhunya dulu sampai membasuh kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, sedangkan kaki dicuci terakhir. Namun hadits ‘Aisyah menerangkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berwudhu secara sempurna (sampai mencuci kaki), setelah itu beliau mengguyur air ke seluruh tubuh.

Dari dua hadits tersebut, para ulama akhirnya berselisih pendapat kapankah kaki itu dicuci. Yang tepat tentang masalah ini, dua cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah bisa sama-sama digunakan. Yaitu kita bisa saja mandi dengan berwudhu secara sempurna terlebih dahulu, setelah itu kita mengguyur air ke seluruh tubuh, sebagaimana disebutkan dalam riwayat ‘Aisyah. Atau boleh jadi kita gunakan cara mandi dengan mulai berkumur-kumur, memasukkan air dalam hidup, mencuci wajah, mencuci kedua tangan, mencuci kepala, lalu mengguyur air ke seluruh tubuh, kemudian kaki dicuci terakhir.

Syaikh Abu Malik hafizhohullah mengatakan, “Tata cara mandi (apakah dengan cara yang disebut dalam hadits ‘Aisyah dan Maimunah) itu sama-sama boleh digunakan, dalam masalah ini ada kelapangan.” 

Kelima: Mengguyur air pada kepala sebanyak tiga kali hingga sampai ke pangkal rambut.

 Keenam: Memulai mencuci kepala bagian kanan, lalu kepala bagian kiri.

 Ketujuh: Menyela-nyela rambut.

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha disebutkan,

“Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi junub, beliau mencuci tangannya dan berwudhu sebagaimana wudhu untuk shalat. Kemudian beliau mandi dengan menggosok-gosokkan tangannya ke rambut kepalanya hingga bila telah yakin merata mengenai dasar kulit kepalanya, beliau mengguyurkan air ke atasnya tiga kali. Lalu beliau membasuh badan lainnya.” (Riwayat  Bukhari no. 272)

Juga ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha mengatakan,

“Jika salah seorang dari kami mengalami junub, maka ia mengambil air dengan kedua tangannya dan disiramkan ke atas kepala, lalu mengambil air dengan tangannya dan disiramkan ke bagian tubuh sebelah kanan, lalu kembali mengambil air dengan tangannya yang lain dan menyiramkannya ke bagian tubuh sebelah kiri.” (Riwayat Bukhari no. 277)

 

Kedelapan: Mengguyur air pada seluruh badan dimulai dari sisi yang kanan setelah itu yang kiri.

Dalilnya adalah dari Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata,

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mendahulukan yang kanan ketika memakai sendal, ketika bersisir, ketika bersuci dan dalam setiap perkara (yang baik-baik).”  (Riwayat  Bukhari no. 168 dan Muslim no. 268)

Mengguyur air ke seluruh tubuh di sini cukup sekali saja sebagaimana zhohir (tekstual) hadits yang membicarakan tentang mandi. Inilah salah satu pendapat dari madzhab Imam Ahmad dan dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.

 

Bagaimanakah Tata Cara Mandi pada Wanita?

Tata cara mandi junub pada wanita sama dengan tata cara mandi yang diterangkan di atas, sedikit tambahan untuk mandi wajib setelah haid:

“Asma’ bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang mandi wanita haidh. Maka beliau bersabda, “Salah seorang dari kalian hendaklah mengambil air dan daun bidara, lalu engkau bersuci, lalu membaguskan bersucinya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya, lalu menggosok-gosoknya dengan keras hingga mencapai akar rambut kepalanya. Kemudian hendaklah engkau menyiramkan air pada kepalanya tadi. Kemudian engkau mengambil kapas bermisik, lalu bersuci dengannya. Lalu Asma’ berkata, “Bagaimana dia dikatakan suci dengannya?” Beliau bersabda, “Subhanallah, bersucilah kamu dengannya.” Lalu Aisyah berkata -seakan-akan dia menutupi hal tersebut-, “Kamu sapu bekas-bekas darah haidh yang ada (dengan kapas tadi)”. Dan dia bertanya kepada beliau tentang mandi junub, maka beliau bersabda, ‘Hendaklah kamu mengambil air lalu bersuci dengan sebaik-baiknya bersuci, atau bersangat-sangat dalam bersuci kemudian kamu siramkan air pada kepala, lalu memijatnya hingga mencapai dasar kepalanya, kemudian mencurahkan air padanya’.” (Riwayat  Bukhari no. 314 dan Muslim no. 332)

Dalam mandi junub tidak disebutkan “menggosok-gosok dengan keras”. Hal ini menunjukkan bedanya mandi junub dan mandi karena haidh/nifas.

Ketiga: Ketika mandi sesuai masa haidh, seorang wanita disunnahkan membawa kapas atau potongan kain untuk mengusap tempat keluarnya darah guna menghilangkan sisa-sisanya. Selain itu, disunnahkan mengusap bekas darah pada kemaluan setelah mandi dengan minyak misk atau parfum lainnya. Hal ini dengan tujuan untuk menghilangkan bau yang tidak enak karena bekas darah haidh.

 

Perlukah Berwudhu Seusai Mandi?

Cukup kami bawakan dua riwayat tentang hal ini,

Dari ‘Aisyah, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak berwudhu setelah selesai mandi.” (Riwayat Tirmidzi no. 107, An Nasai no. 252, Ibnu Majah no. 579, Ahmad 6/68. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Sebuah riwayat dari Ibnu ‘Umar,

Beliau ditanya mengenai wudhu setelah mandi. Lalu beliau menjawab, “Lantas wudhu yang mana lagi yang lebih besar dari mandi?” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah secara marfu’ dan mauqu])

 Abu Bakr Ibnul ‘Arobi  berkata, “Para ulama tidak berselisih pendapat bahwa wudhu telah masuk dalam mandi.” Ibnu Baththol juga telah menukil adanya ijma’ (kesepakatan ulama) dalam masalah ini.

Penjelasan ini adalah sebagai alasan yang kuat bahwa jika seseorang sudah berniat untuk mandi wajib, lalu ia mengguyur seluruh badannya dengan air, maka setelah mandi ia tidak perlu berwudhu lagi, apalagi jika sebelum mandi ia sudah berwudhu

Senin, Desember 15, 2014

Binte Biluhuta

Resep : Sajian Sedap

Binte biluhuta adalah salah satu nama masakan asal Sulawesi Utara. Masakan yang terbuat dari jagung manis yang dipipil, udang kupas, dan kelapa parut. Tak ada salahnya anda mencoba menyajikan masakan dari dapur Gorontalo ini.

Bahan-bahan/bumbu-bumbu :

2 buah jagung manis (550 gram), dipipil
2.000 ml air
1 buah cabai merah, diiris bulat
4 buah cabai rawit merah, diiris bulat
6 butir bawang merah, diiris tipis
200 gram udang kupas
2 1/2 sendok teh garam
2 1/2 sendok teh gula pasir
75 gram kelapa parut kasar
1 sendok makan air jeruk nipis
5 tangkai kemangi, diambil daunnya
2 buah tomat, dipotong-potong

Cara Pengolahan :

Rebus air, jagung manis, cabai merah, cabai rawit merah, dan bawang merah sampai mendidih.
Tambahkan udang, garam, dan gula pasir. Masak sampai matang.
Masukkan kelapa parut, air jeruk nipis, dan daun kemangi. Masak sampai matang.
Menjelang diangkat, tambahkan tomat. Aduk rata.
Untuk 8 porsi


Atau resep dari masakan Gorontalo.com
Tuesday, 30 September 2014

Bahan Binte Biluhuta :
2 buah jagung manis, pipil
200 gram udang kupas
200 gram ian tongkol atau tuna, bakar, suwir-suwir dagingnya
½ butir kelapa setengah tua, kupas, parut memanjang
1 buah jeruk nipis, ambil airnya
5 buah belimbing wulu, potong bulat tipis
1 buah tomat, potong-potong
1 batang bawang daun, potong 1 cm
1 ikat kemangi, ambil daunnya
1,5 liter air

Bumbu Binte Biluhuta :

8 butir bawang merah, iris tipis
2 buah cabai merah, iris bulat tipis
6 buah cabai rawit merah, iris bulat tipis
2 sdt garam
2 sdt gula pasir

Cara Membuat Binte Biluhuta :

Siapkan panci. Masukkan air, bawang merah, jagung manis, cabai merah, dan cabai rawit. Masak hingga mendidih.
Masukkan udang, ikan tongkol, garam dan gula pasir. Masak hingga udang matang.
Masukkan kelapa parut, air jeruk nipis, dan belimbing wuluh. masak hingga mendidih kembali.
Masukkan tomat, bawang daun, dan daun kemangi, aduk sebentar, angkat.
Sajikan Binte Biluhuta.

Kapurung

Resep Masakan Praktis
Kapurung 
Sumber: NN
Copas : DuniaIbu.com
Bumbu
garam, cabe rawit hijau, tomat rebus, semua diulek halus
5-6 bh jeruk limau, dibelah, diperas airnya

Bahan
ayam pejantan, ambil dadanya, dibakar sedikit, suwir-suwir, sisihkan

Sayur-sayuran
kangkung/daun pakis/daun mandrak/daun labu/daun katuk
jantung pisang diiris tipis
kacang panjang dipotong-potong
jagung disisir
terong bulet dibelah 4 [jangan sampai putus]
terong ungu dipotong-potong

Cara
1. Didihkan air panas, masukkan semua sayuran dan ayam yang sudah disuwir, rebus sampai matang.

2. Sementara itu, siapkan tepung sagu aren [ini mesti asli dari sana, kata mama mertuaku kalau yang dijual di sini rasanya beda]. Tepung sagu kira2 segelas, terus dicairkan dengan air dua gelas, aduk sampai halus, taruh di baskom besar.

3. Didihkan air panas dan langsung dimasukan ke cairan sagu tadi jangan diaduk, sampai menyatu semua [tandanya permukaannya memutih],
baru diaduk [wah ini bagian yang paling ribet] aduk sampai menyatu semua, jadi adonan kayak dodol gitu.

4. Siapkan baskom lain, isi air dingin, jangan penuh2 1/4 baskom cukup. Bulatkan adonan sagu tadi pakai sumpit, setiap bulatan dimasukan ke baskom yang isi air dingin tadi. Kalau susah pakai sumpit, pakai sendok saja.

5. Kalau sayur dan ayam sudah matang, matikan api, tunggu adonan sagu sudah selesai dibulat2. Kalau sudah, masukan bumbu halus ke
dalam panci sayur tadi, aduk rata, masukan juga air jeruk limau lebih banyak lebih wangi

6. Selanjutnya, setelah sayur dan ayam sudah matang, matikan api, aduk rata.

7. Setelah sayuran siap, masukkan ke dalam baskom yang isinya adonan sagu tadi, aduk rata. Siap dihidangkan.

Rabu, Desember 10, 2014

Chicken Roll

Chicken roll mambo
by.aiiuwidi ;)

Bahan :
200gr daging ayam cincang halus
200gr daging ayam dipotong kotak
50gr lemak ayam dipotong halus
100gr terigu
2 butir telur
2 sdm SKM

Bumbu :
1 sdt gula pasir
1 sdt garam halus
1 sdm kecap asin
1 sdt merica bubuk
1 sdm maizena
1 sdm saus tiram
1 sdm minyak wijen

Baluran :
5 sdm terigu
2 sdm SKM
tepung panir secukupnya

Pelengkap :
plastik es mambo / es lilin utk ngukus + corong

Cara membuat:
1. Masukkan semua bahan dalam 1 wadah, aduk rata.
2. Masukkan semua bumbu kedalam wadah, aduk rata. (maizena terakhir).
3. Setelah semua bahan tercampur rata, masukkan kedalam plastik es mambo.
4. Kukus dengan api besar ±15menit. (tusuk-tusuk plastik dengan tusuk gigi, supaya uapnya masuk kedalam).
5. Keluarkan dari plastik, lalu dipotong serong.
6. Siapkan adonan utk baluran, terigu+skm dikasi air sedikit, aduk pakai sendok, (tekstur mirip mayones)
7. Gulingkan ditepung panir, lalu goreng dengan minyak sedang.
Selesai deh, selamat mencoba

Selasa, Desember 09, 2014

Pempek Nasi

Sarapan untuk anak2 termasuk keharusan bagi saya, supaya mereka bisa beraktivitas dan tidak jajan sembarangan, masalahnya kadang kagak sempat masak yang macem2 karena…biasalah mak2 sok sibuk hiksss
Biasanya menu sarapan yaa yg praktis2 saja…Nasi goreng, mie goreng, seblak, Sosis atau martabak mie…
Nah ini ada yg lain l;agi “Pempek Nasi” bahan utamanya sisa Nasi tadi Malam, heheeee….

Bahan:

2 mangkok gr nasi putih
2 gelas air
kira2 300 gram terigu
satu sendok makan garam halus
1  sendok makan gula pasir
5 siung bawang putih dihaluskan
lada halus secukupnya
telur satu butir (boleh tidak pakai)
minyak goreng secukupnya
200 gr sagu tani atau sampai adonan kalis dan bisa dibentuk

Cara Membuat:
1.    Campurkan nasi, air, garam, bawang putih halus, , lada ke dalam panci. Masak sambil diaduk-aduk hingga tercampur rata  
2.    kemudian masukkan terigu dan aduk lagi sampai rata dan adonan lengket menyatu. Matikan api.
3.    Masukkan minyak goreng, aduk. Masukkan telur, aduk lagi hingga tercampur rata. Tunggu hingga adonan dingin.
4.    Masukkan sagu tani sedikit demi sedikit hingga adonan kalis dan bias dibentuk
5.    Olesi telapak tangan dengan sagu tani agar adonan tidak lengket di tangan. Ambil satu sendok makan adonan.
6.    Bentuk adonan seperti pada foto berikut ini
Lubangi adonan dengan jari telunjuk
7.    Isi dengan telur, setengahnya saja jangan sampai penuh
8.    Tutup dan bentuk menjadi pempek telur kecil
9.    Rebus hingga mengambang di air mendidih yang dicampur 1 sdm minyak goreng.
10.  Angkat pempek, dan tiriskan.

11.  Bisa langsung dimakan atau di goreng lebih dulu. Hidangkan dengan Cuka atau kuah kacang

Senin, Desember 08, 2014

Ikan Mas Rebung Asam

"Ikan Mas Rebung Asam" jadi inget Bunda Yuliati duluuuu kita suka makan ini di simpang Muara Pinang hehehe. ..

#edisiNgenalinF3denganMakananDusun
Bahan:
500 gram rebung yang sudah diasamkan, potong seperti batang korek api
100 gram Ikan Mas, potong kotak
2 papan petai, kupas, belah
2 batang daun bawang, potong 1 cm
1,5 liter santan dari 1 butir kelapa

Bumbu yang dihaluskan:
12 butir bawang merah
6 siung bawang putih
10 buah cabai merah keriting
3 cm kunyit
1 sdm garam

Bumbu lainnya:
3 lembar daun salam
1 batang serai, memarkan
3 cm jahe, memarkan
4 cm lengkuas, memarkan
4 buah asam kandis

Cara Membuat:
Rebus santan sambil diaduk-aduk hingga mendidih.
Masukan bumbu yang dihaluskan dan bumbu lainnya, lalu aduk hingga mendidih kembali.
Masukan rebung, ikan, dan petai, lalu masak hingga setengah matang.
Tambahkan daun bawang, lalu masak hingga semua bahan matang.

Angkat dan sajikan.

Minggu, November 30, 2014

Gangguan Jiwa

Tahapan Halusinasi dan Delusi yang Biasa Menyertai Gangguan Jiwa :
Menurut Janice Clack (1962) klien yang mengalami gangguan jiwa sebagian disertai Halusinasi dan Delusi yang meliputi beberapa tahapan antara lain :
1.   Tahap Comforting
Timbul kecemasan ringan disertai gejala kesepian, perasaan berdosa, klien biasa­nya mengkompensasikan stressornya dengan coping imajinasi sehingga merasa senang dan terhindar dari ancaman.
2.   Tahap Condeming
Timbul kecemasan moderat, cemas biasanya makin meninggi selanjutnya klien terasa mendengarkan sesuatu, klien merasa takut apabila orang lain ikut mendengarkan apa-apa yang ia rasakan sehingga timbul perilaku menarik diri (with drawl).
3.   Tahap Controling
Timbul kecemasan berat, klien berusaha memerangi suara yang timbul tetapi suara tersebut terus-menerus mengikuti, sehingga menyebabkan klien susah berhubungan dengan orang lain. Apabila suara tersebut hilang klien merasa sangat kesepian / sedih.
4.   Tahap Conquering
Klien merasa panic, suara atau ide yang datang mengancam apabila tidak diikuti perilaku klien dapat bersifat merusak atau dapat timbul perilaku suicide.

 

A.   Gangguan Kognisi
Kognisi adalah suatu proses mental yang dengannya seorang individu menyadari dan mempertahankan hubungan dengan lingkungannya baik lingkungan dalam maupun lingkungan luarnya (fungsi mengenal)
Proses Kognisi, meliputi :
-       Sensasi dan persepsi
-       Perhatian
-       Ingatan
-       Asosiasi
-       Pertimbangan
-       Pikiran
-       Kesadaran

Gangguan sensasi dan persepsi
1)  Gangguan sensasi :
a.    Hiperestesia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan abnormal dari kepekaan dalam proses pengideraan, baik terasa panas, dingin, nyeri ataupun raba.
b.    Anestesia adalah suatu keadaan dimana tidak didapatkan sama sekali perasaaan pada penginderaan. Sifatnya dapat menyeluruh setempat atau sebagian saja. Dibedakan pada anestesia fungsional daerah anestesia yang terkena tidak sesuai dengan persyaratan yang biasanya menimbulkan
c.    Parestesia adalah keadaaan dimana terjadi perubahan pada perasaan yang normal (biasanya rasa raba), misalnya kesemutan.
Parestesia dapat berupa : Acroparestesia adalah keadaan dimana terjadi, perasaan “menebal” pada ujung-ujung ekstremitas (baal). Aestereognos, adalah keadaan dimana terjadi kegagalan mengenal bentuk suatu benda dengan rasa raba
d.    Sinestesia adalah suatu keadaan dimana rangsang yang sesua, dengan alat indera tertentu, ditanggapi oleh indera yang lain.
e.    Hiperosmia adalah suatu keadaan dimana terjadi peningkatan kepekaan berlebihan indera penciuman (fungsi membau).
f.     Anosmia  adalah suatu keadaan dimana terjadi kegagalan/kehilangan daya penciuman baik sebagian maupun seluruh.
g.    Hiperkinestesia adalah keadaan dimana terjadi peningkatan kepekaan yang    berlebihan terhadap perasaan gerak tubuh.
h.    Hipokinestesia adalah keadaan dimana terjadi penurunan kepekaan terhadap gerak perasaan tubuh.

2)  Gangguan Persepsi :
a.    Ilusi adalah suatu persepsi yang salah/palsu, dimana ada atau pernah ada rangsangan dari luar.
b.    Halusinasi adalah suatu persepsi yang salah tanpa dijumpai adanya dari luar.
Jenis-jenis Halusinasi :
1)   Halusinasi pendengaran (auditif, akustik);
Paling sering dijumpai dapat berupa bunyi mendenging atau suara bising yang tidak mempunyai arti, tetapi lebih sering terdengar sebagai sebuah kata atau kalimat yang bermakna. suara tersebut ditujukan pada penderita sehingga tidak jarang penderita bertengkar dan berdebat dengan suara-suara tersebut.
Suara tersebut dapat dirasakan berasal dari jauh atau dekat, bahkan mungkin datang dari tiap bagian tubuhnya sendiri. Suara bisa menyenangkan, menyuruh berbuat baik, tetapi dapat pula berupa ancaman, mengejek, memaki atau bahkan yang menakutkan dan kadang-kadang mendesak/memerintah untuk berbuat sesuatu seperti membunuh dan merusak.
2)   Halusinasi penglihatan (visual, optik);
3)   Halusinasi penciuman (olfaktorik);
4)   Halusinasi pengecapan (gustatorik);
5)   Halusinasi raba (taktil);
6)   Halusinasi seksual, ini termasuk halusinasi raba;
7)   Halusinasi kinestetik;
8)   Halusinasi viseral; pengecapan
c.    Depersonalisasi, sindrom lobus parietalis. merasa dirinya terpecah menjadi dua.
d.    Derealisasi adalah suatu perasaan aneh tentang lingkungannya yang tidak sesuai dengan kenyataan, misalnya perasaan bahwa segala sesuatu yang dialaminya seperti dalam impian.

B.   Gangguan Perhatian
Beberapa bentuk gangguan perhatian:
1.       Distraktibiliti adalah perhatian yang mudah dialihkan oleh rangsang yang tidak
berarti, misalnya: suara nyamuk, suara kapal, orang lewat, dan sebagainya.
2.       Aproseksia adalah suatu keadaan dimana terdapat ketidaksanggupan untuk
memperhatikan secara tekun terhadap situasi/keadaan tanpa memandang
pentingnya masalah tersebut.
3.       Hiperproseksia adalah suatu keadaan dimana terjadinya pemusatan/konsentrasi
perhatian yang berlebihan, sehingga sangat mempersempit persepsi yang ada.

C.   Gangguan Ingatan
Proses ingatan terdiri dari 3 unsur yaitu : Pencatatan (mencamkan, reception and registration), Penyimpanan (menahan, retention, preservation), Pemanggilan kembali (recalling).
Gangguan ingatan terjadi bila terdapat gangguan pada satu/lebih dari 3 unsur tersebut. faktor yang mempengaruhi adalah keadaan jasmaniah (kelelahan, sakit kegelisahan), dan umur. Sesudah usia 50 tahun fungsi ingatan akan berkurang secara bertahap.
Beberapa bentuk gangguan ingatan:
Amnesia
Ketidakmampuan mengingat kembali pengalaman yang ada, dapat bersiftii sebagian atau total retrograd/antegrad dan dapat ditimbulkan oleh faktor organik/psikogen. Sebab organik, kerusakan pada unsur pencatatan dan penyimpanan, sedangkan sebab psikogen karena proses pemanggilan kembali terhalang oleh faktor psikologis.
Hipernemsia
Suatu keadaan pemanggilan kembali yang berlebihan sehingga seseorang dapat menggambarkan kejadian-kejadian yang lalu dengan sangat teliti sampai kepada hal-hal yang sekecil-kecilnya. Sering pada keadaan mania, paranoia, dan katatonik.
Paramnesia (pemalsuan ingatan)
Adalah gangguan dimana terjadi penyimpangan terhadap ingatan-ingatan lama yang dikenal dengan baik. Ini terjadi akibat distorsi proses pemanggilan paramnesia berguna sebagai pelindung terhadap rasa takut.
a.    Konfabulasi;
b.    Pemalsuan retrospektif;
c.    Dejavu (ilusi ingatan);
d.    De Jamais vu;

D.   Gangguan Asosiasi
Dalam kehidupan mental normal, proses asosiasi terjadi secara terus menerus dengan pola-pola tertentu. Faktor-faktor yang menentukan pola-pola dalam proses asosiasi, antara lain :
a.    Keadaan lingkungan pada saat itu.
b.    Kejadian-kejadian yang baru terjadi.
c.    Pelajaran dan pengalaman sebelumnya.
d.    Harapan-harapan dan kebiasaan seseorang.
e.    Kebutuhan dan riwayat emosionalnya.

Beberapa bentuk gangguan asosiasi :
1.    Retardasi (perlambatan); adalah proses asosiasi yang berlangsung lebih lambat dari biasanya.
2.    Kemiskinan ide; Suatu keadaan dimana terdapat kekurangan asosiasi yang dapat dipergunakan.
3.    Perseversi; Suatu keadaan dimana satu asosiasi diulang-ulang kembali secara terus menerus yang sekakan-akan menggambarkan seseorang tidak sanggup lagi untuk melepaskan ide yang telah diucapkan.
4.    Flight of ideas (lari cita, pikiran melompat-lompat); Suatu keadaan dimana aliran asosiasi berlangsung sangat cepat yang tampak dari perubahan isi pembicaraan dan pikiran. Di sini nampak suatu ide belum selesai, disusul ide yang lain.
5.    Inkohorensi; Suatu keadaan dimana aliran asosiasi tak berhubungan satu dengan yang lain. Dapat berbentuk sebagai "gado-gado kata" (word salad) atau suatu neologisme (pembentukan kata-kata baru yang tidak berarti). Inkohorensi dapat dikatakan sebagai suatu "asosiasi longgar".
6.    Blocking (hambatan, benturan); Suatu keadaan dimana terjadi kegagalan membentuk asosiasi, mulai dari situasi sementara akibat reaksi emosional yang kuat sampai pada blocking yang lama seperti terdapat pada penyakit jiwa yang berat. Di sini penderita tak dapat menerangkan mengapa dia berhenti.
7.    Aphasia; Suatu keadaan dimana terjadi kegagalan sebagian atau seluruhnya untuk menggunakan atau memahami bahasa

E.    Gangguan Pikiran
v  Pikiran umum adalah meletakkan hubungan antara berbagai bagian dari pemberitahuan seseorang.
v  Berpikir merupakan suatu proses dalam mempersatukan atau menghubungkan ide-ide dengan membayangkan, membentuk pengertian untuk menarik kesimpulan, serta proses-proses yang lain untuk membentuk ide-ide baru
v  Sehingga dalam proses berpikir meliputi proses pertimbangan pemahaman, ingat penalaran.
v  Proses berpikir yang normal mengandung arus ide, simbol, dan asosiasi terarah pada tujuan dan yang dibangkttkan oleh suatu masalah atau tugas yang dapat menghantar pada suatu penyelesaian yang berorientasi pada kenyataan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses berpikir, yaitu:
ü  Faktor somatik (ganguan otak dan kelelahan).
ü  Faktor psikologik (gangguan emosi dan psikosa).
ü  Faktor sosial (kegaduhan dan keadaan sosial tertentu).

Beberapa bentuk gangguan proses berpikir:
1.   Gangguan bentuk pikiran (produksi)
2.   Gangguan arus atau jalan pikiran meliputi cara dan laju proses asosiasi dalam pemikiran.
a.    Flight of Ideas (lari cita, pikiran melompat-lompat melayang) adalah keadaan dimana terjadi perubahan yang mendadak, cepat dalam pembicaraan, sehingga suatu ide belum selesai sudah disusul ole hide yang lain.
b.    Retardasi (perlambatan), yaitu keadaan dimana terjadi perlambatan jalan pikiran seseorang, sering dijumpai pada penderita skizofrenia dan psikosa efektif fase depresi.
c.    Persevarasi
d.    Cirumstantiality
e.    Inkohorensi,
f.     Blocking
g.    Logorea
h.    Neologisme
i.      Irelevansi
j.     Aphasia

3.   Gangguan isi pikiran (meliputi isi pikiran yang non verbal atau isi pikiran yang diceritakan).
a.    Waham
Suatu kepercayaan yang terpaku dan tidak dapat dikoreksi atas dasai fakta dan kenyataan. Tetapi harus dipertahankan, bersifat patologis dan tidak terkait dengan kebudayaan setempat. Adanya waham menunjukkan suatu gangguan jiwa yang berat, isi waham dapat menerangkan pemahaman terhadap faktor-faktor dinamis penyebab gangguan jiwa. Terbentuknya kepercayaan yang bersifat waham adalah sebagai perlindungan diri terhadap rasa takut dan untuk pemuasan kebutuhan.
Diklasifikasi menurut isinya dan isi waham biasanya mempunyai kecenderungan untuk menguasai/menonjol.

(1)  Waham kebesaran (waham ekspansif);
(2)  Waham depresif (menyalahkan diri sendiri);
Kepercayaan yang tidak berdasar. Menyalahkan diri sendiri akibat perbuatan-perbuatannya yang melanggar kesusilaan atau kejahatan lain. Waham depresif sering dirasakan sebagai: Waham bersalah (perasaan bersalah, kehilangan harga diri), Waham sakit (gangguan perasaan tubuh yang berasal dari viseral yang dipengaruhi oleh keadaan emosi), Waham miskin (kehidupan perasaan nilai sosial).
(3)  Waham somatis (waham hipokondria);
Kecenderungan yang menyimpang dan bersifat dungu (bizarre) mengenai fungsi dan keadaan tubuhnya, misalnya penderita merasa tubuhnya membusuk atau mengeluarkan bau busuk.
(4)  Waham nihilistik;
Suatu kenyataan bahwa dirinya atau orang lain sudah meninggal atau dunia ini sudah hancur.

(5)  Waham kejar;
Penderita yakin bahwa ada orang yang sedang mengganggunya, menipunya, memata-matai atau menjelekkan dirinya.
(6)  Waham hubungan;
Keyakinan bahwa ada hubungan langsung antara interpretasi yang salah dari pembicaraan, gerakan atau digunjingkan.
(7)  Waham pengaruh;
Keyakinan yang palsu bahwa dia adalah merupakan subjek pengaruh dari orang lain atau tenaga gaib yang tak terlibat.

b.   Fobia
Adalah rasa takut yang irasional terhadap suatu benda atau keadaan yang tidak dapat dihilangkan atau ditekan oleh penderita walau disadari bahwa hal tersebut irasional. Fob! dapat mengakibatkan suatu kompulsi, bentuk fobi bervariasi dan banyak mengenai benda serta keadaan.

c.    Ideas of reference (pikiran hubungan)
Suatu keadaan yang mana pembicaraan orang, benda atau kejadian dihubungkan dengan dirinya sendiri. Penderita mungkin menyadari pikirannya tidak masuk akal, misal bunyi burung dikira sebuah berita bagi dirinya.

d.    Pre-okupasi
Adalah suatu pikiran yang terpaku hanya pada sebuah ide saja, yang biasanya berhubungan dengan keadaan emosional yang kuat.

e.    Thought Insertion (sisip pikiran).
Adalah suatu perasaan bahwa ada pikiran dari luar yang disisipkan dan dimasukkan ke dalam otaknya.

f.     Thought broad cast (siar pikir)
Adalah suatu perasaan bahwa pikirannya telah disiarkan melalui radio, televisi, kawat liat listrik, dan lampu.

F.    Gangguan Kesadaran
Bentuk-bentuk gangguan kesadaran:
1.   Kesadaran Kuantitatif
a.    Kesadaran yang menurun; Suatu kesadaran dengan kemampuan persepsi, perhatian dan pemikiran yang berkurang secara keseluruhan.
(1)    Apatis (kesadaran seperti orang mengantuk).
(2)    Somnolen (kesadaran seperti orang mengantuk benar, memberi jawaban bila dirangsang).
(3)    Sopor (hanya bereaksi dengan rangsang yang kuat, ingatan, orientasi dan pertimbangan sudah hilang).
(4)    Subkoma dan koma (tidak didapatkan reaksi terhadap rangsang apapun).
b.    Kesadaran yang meninggi; Keadaan reaksi yang meningkat terhadap suatu rangsang, disebabkan oleh zat toksik yang merangsang otak atau oleh faktor psikologik.

2.   Kesadaran Kualitatif
Terjadi perubahan dalam kualitas kesadaran, dapat ditimbulkan oleh keadaan toksik, organik, dan psikogen.
a.    Stupor;
b.    Twilight state
c.    Fuge;
d.    Confusion (bingung);
e.    Tranco (trans);

G.   Gangguan Kemauan
Bentuk-Bentuk gangguan kemauan :
Abulia (kemauan yang lemah);
Negativisme;
Kekakuan (rigiditas);
Kompulsi
1.    Kleptomania, yaitu sering mencuri barang yang mempunyai arti simbolis dan biasanya tidak bernilai.
2.    Pyromania (membakar kompulsif), dipandang sebagai suatu bentuk simbolis pemuasan seksual.
3.    Mencuci tangan berulang-ulang dengan tidak dapat dicegah atau dikuasai.

H.   Gangguan Emosi dan Afek
v  Emosi adalah suatu pengalaman yang sadar dan memberikan pengaruh pada aktivitas tubuh dan menghasilkan sensasi organis dan kinetis
v  Afek adalah kehidupan perasaan atau nada perasaan emosional seseorang, menyenangkan atau tidak, yang menyertai suatu pikiran, biasa berlangsung lama dan jarang disertai komponen fisiologik.

Bentuk – bentuk gangguan emosi :
a.    Euforia
b.    Elasi
c.    Eksaltasi
d.    Eklasi (Kegairahan)
e.    Inappropriate Afek (Afek yang tidak sesuai)
f.     Afek yang kaku (rigid)
g.    Emosi Labil
h.    Cemas dan Depresi
i.      Ambivalensi
j.     Apatis
k.    Emosi yang tumpul dan datar

I.    Gangguan Psikomotor
Psikomotor adalah gerakan badan yang dipengaruhi oleh keadaan jiwa, sehingga afek bersama yang mengenai badan dan jiwa. Meliputi kondisi, perilaku motorik atau aspek motorik dari suatu perilaku.
Bentuk-bentuk gangguan psikomotor :
Aktivitas yang meningkat.
1)    Hiperaktivitas, hiperkinesia, aktivitas dan pergerakan yang berlebihan dengan intensitas respon yang meningkat.
2)    Hipertonisitas, peningkatan pegangan otot tubuh.
3)    Gaduh gelisah katatonik, aktivitas motorik yang tampaknya tidak bertujuan berkali-kali dan seakan-akan tak dipengaruhi oleh rangsang dari luar.
Aktivitas yang menurun.
1)    Hipoaktivitas hipokinesia, aktivitas dan pergerakan berkurang dengan intensitas respon yang menurun
2)    Kelambanan motoris, aktivitas berkurang menyeluruh, misal pada orang stupor katatonik.
3)    Atonisitas, keadaan tonus dan kontraksi otot yang abnormal, dapat menyeluruh atau sebagian saja.  
4)    Paralisa, kehilangan fungsi otot baik secara keseluruhan atau sebagian saja.

Aktivitas yang terganggu atau tidak sesuai. à khusus anak/individu berkebutuhan khusus
1)    Ataksia, tidak terdapat koordinasi pada gerakan tungkai atau dalam sikap berdiri.
2)    Apraksia, tidak sanggup memanipulasi benda dengan cara yang terarah.
3)    Atetosfs, gerakan terus menerus, difus, seperti tungkai dan dirasakannya nyeri.
4)    Gerakan khoreiform, gerakan tidak teratur secara terus menerus yang tidak dikuasai oleh kemauan.
5)    Spasme, kontraksi otot-otot sebagian atau seluruh yang tidak dikuasai oleh kemauan.
6)    Tremor, kontraksi serat-serat otot yang ringan dan ritmis, yang tidak dikuasai, dapat lambat atau cepat, kasar atau halus teratur atau tidak teratur.
7)    Konvlusi, kejang terus menerus pada daerah tubuh yang luas dan biasanya dengan hilangnya kesadaran.

Aktivitas yang berulang-ulang.
1)    Katalepsi, mempertahankan secara kaku posisi badan tertentu.
2)    Fleksibilitas serea, salah satu bentuk katalepsi, yang mana posisi badan yang dibuat orang lain dipertahankan terus.
3)    Stereotipi, gerakan salah satu badan berulang-ulang dan tidak bertujuan.
4)    Manerisma, gerakan stereotipidan teaterikal, berbentuk rituil dan selalu diulang ulang.

Otomatisme perintah dia menurut sebuah perintah secara otomatis tanpa disadari.
1)    Otomatisme, berbuat sesuatu secara otomatis sebagai ekspresi simbolik aktivitas tak sadar.
2)    Ehopraksia, langsung meniru gerakan orang lain pada saat dia melihat.  
3)    Ekholalia, langsung mengulangi atau meniru apa yang dikatakan orang lain.
4)    Negativisme; suatu pertahanan psikologik yang diperhatikan dengan melawan atau menentang terhadap apa yang disuruh. Ada 2 macam, yaitu: Aktif (Melaksanakan sebaliknya dari apa yang diperintahkan); Pasif (tidak melaksanakan apa yang diperintahkan, contoh: mutisme).
5)    Aversi, suatu reaksi yang agresif dan tegas yang diperlihatkan dengan melawan, mriuiengki, membenci, nonkooperatif, menolak, dan kadang-kadang menunjukkan reaksi stupor.