Minggu, Januari 22, 2017

Sosis Balut Tepung Saus Mayones

Sosis Balut Tepung Saus Mayones ini menawarkan cara berbeda dalam menikmati sosis.

Resep dari Sajian Sedap

Bahan-bahan/bumbu-bumbu:

6 buah sosis sapi, potong 3 bagian
100 gram tepung jagung, (misal: gasol)
50 gram tepung terigu
1/2 sendok teh baking powder
1/2 sendok makan tepung sagu
1/2 sendok teh bawang putih bubuk
15 gram putih telur
150 ml air es
1/2 sendok teh garam
1/8 sendok teh merica bubuk
1 liter minyak untuk menggoreng

Bahan Saus (aduk Rata):
25 gram saus tomat
50 gram mayones

Cara membuat Sosis Balut Tepung Saus Mayones:
1. Campur tepung jagung, tepung terigu, baking powder, tepung sagu, bawang putih, telur, garam, dan merica bubuk. Aduk rata.
2. Celupkan sosis ke dalam campuran tepung.
3. Goreng di dalam minyak yang sudah dipanaskan dengan api sedang sampai matang dan kekuningan.

Untuk 4 porsi




Kamis, Januari 19, 2017

Buruk Muka Cerminpun Dibelah

BURUK MUKA CERMINPUN DIBELAH

Buya Gusrizal Gazahar
(Ketua MUI Sumbar)

Bila fatwa, khutbah, taushiyyah dan rekomendasi ulama sudah dipandang sebagai penyebab rusaknya kebhinnekaan, apa bedanya pernyataan seperti itu dengan sikap kaum musyrikin Makkah di masa jahiliyyah terhadap dakwah Rasulullah saw ???

Bagi yang masih belum mengalami kebutaan hati, coba fahami kalimat 'Utbah Ibn Rabi'ah ketika meminta Rasulullah saw berhenti dari dakwah beliau:
قد أتيت قومك بأمر عظيم فرقت به جماعتهم
"Sesungguhnya engkau (Muhammad saw) telah membawa kepada kaummu suatu perkara sangat besar yang memecah belah persatuan mereka".

Bila begini pemahaman Bhinneka Tunggal Ika yang hadir dalam pemikiran tuan-tuan para penyelenggara negara, terpaksa harus dibongkar pasang susunan Wawasan Nusantara yang dahulu pernah diterima.
Bhinneka Tunggal Ika adalah kemajemukan yang diakui eksistensinya dalam bingkai kesatuan bukanlah usaha untuk menghilangkan kemajemukan untuk mewujudkan persatuan.
Fatwa, khutbah, taushiyyah ulama adalah petunjuk yang diambil dari sumber ajaran Islam (Al-Qur'an dan Sunnah) untuk umat Islam bukan untuk umat lain.

Tugas tuan-tuan penyelenggara negara untuk menjamin agar pesan itu sampai dan nyaman diamalkan oleh kaum muslimin. Ini merupakan amanat undang-undang dasar !!!

Kelambatan dan kelalaian menyikapi lah yang menjadi penyebab resah dan gerahnya kaum muslimin.
Bukan fatwa itu yang menjadi penyebab tapi penolakan dan kecemasan tuan-tuan lah yang menjadi pemicu keresahan !

Kalau fatwa yang dijadikan kambing hitam keresahan bahkan sampai menuduh sebagai pemicu rusaknya kebhinnekaan, apa bedanya tuan-tuan dengan 'Utbah Ibn Rabi'ah pentolan kaum musyrikin Makkah yang menentang dakwah Rasulullah saw ?????

Jawablah dengan sisa keimanan yang masih tertinggal di dalam hati tuan-tuan, jika masih ada !!!

Rabu, Januari 18, 2017

Kita dan Ulama

Sepenggal Sejarah

Presiden pertama, founding father-nya negara inipun pernah menyerang seorang ulama besar.

Dianggap melawan pemerintah (yang menurut saya sebenarnya pemerintah waktu itu tak ingin mendapat kritikan yang cerdas), M. Yamin dan Soekarno berkolaborasi menjatuhkan wibawa Buya Hamka melalui headline beberapa media cetak yang diasuh oleh Pramoedya Ananta Toer.

Berbulan-bulan Pramoedya menyerang Buya Hamka secara bertubi-tubi melalui tulisan di koran (media yang paling tren saat itu), Allahuakbar! sedikitpun Buya Hamka tak gentar, fokus Buya tak teralihkan, beliau terlalu mencintai Allah dan saudara muslimya, sehingga serangan yang mencoba untuk menyudutkan dirinya tak beliau hiraukan, Buya Hamka yakin jika kita menolong agama Allah, maka Allah pasti menolong kita. Pasti!

Oh! Buya Hamka terlalu kuat dan tak bisa dijatuhkan dengan serangan pembunuhan karakter melalui media cetak yang diasuh oleh Pram, tak sungkan-sungkan lagi, Soekarno langsung menjebloskan ulama besar tersebut ke penjara tanpa melewati persidangan.

Seperti doa nabi Yusuf as. ketika dipenjara: Yusuf berkata, “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf, 33)

Yah! Saat itu penjara jauh lebih baik bagi Buya Hamka, jauh lebih baik daripada menyerahkan kepatuhannya terhadap Allah kepada orang-orang yang hanya mengejar dunia.

2 tahun 4 bulan di dalam penjara tak beliau sia-siakan dengan bersedih, malah Buya Hamka bersyukur telah dipenjara oleh penguasa pada masa itu, karena di dalam penjara tersebut beliau memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan cita-citanya, merampungkan tafsir Al-Qur’an 30 juz, yang sekarang lebih kita kenal dengan nama kitab tafsir Al-Azhar.

Lalu bagaimana dengan ketiga tokoh tadi?

Ternyata Allah masih sayang kepada Pramoedya, M. Yamin dan Soekarno. Karena apa yang telah dilakukan oleh ketiga tokoh bangsa tersebut terhadap Buya Hamka, tak harus diselesaikan di akhirat, Allah telah mengizinkan permasalahan tersebut untuk diselesaikan di dunia saja.

Di usia senjanya, Pramoedya akhirnya mengakui kesalahannya dimasa lalu dan dengan rendah hati bersedia “meminta maaf” kepada Buya Hamka, ya! Pramoedya mengirim putri sulungnya kepada Buya Hamka untuk belajar agama dan men-syahadat-kan calon menantunya.

Apakah Buya Hamka menolak? Tidak! Dengan lapang dada Buya Hamka mau mengajarkan ilmu agama kepada anak beserta calon menantu Pramoedya, tanpa sedikitpun pernah mengungkit kesalahan yang pernah dilakukan oleh -salahsatu penulis terhebat yang pernah dimiliki indonesia- tersebut terhadap dirinya. Allahuakbar! Begitu pemaafnya Buya Hamka.

Ketika M. Yamin sakit keras dan merasa takkan lama lagi berada di dunia ini, beliau meminta orang terdekatnya untuk memanggilkan Buya Hamka. Saat Buya Hamka telah berada di sampingya, dengan kerendahan hati M. Yamin (memohon maaf dengan) meminta kepada Buya Hamka agar sudi mengantarkan jenazahnya untuk dikebumikan di kampung halaman yang telah lama tak dikunjungi Talawi, dan di kesempatan nafas terakhirnya M. Yamin minta agar Buya sendiri yang menuntunnya untuk mengucapkan kalimat-kalimat tauhid.

Apakah Buya Hamka menolak? Tidak! Buya Hamka menuluskan semua permintaan tersebut, Buya Hamka yang “menjaga” jenazah -tokoh pemersatu bangsa- tersebut sampai selesai dikebumikan dikampung halamannya sendiri.

Namun, lain hal dengan Soekarno, malah Buya Hamka sangat merindukan proklamator bangsa Indonesia tersebut, Buya Hamka ingin berterima kasih telah diberi “hadiah penjara” oleh Bung Karno, yang dengan hadiah tersebut Buya memiliki lebih banyak waktu untuk menyelesaikan tafsir Al-Azharnya yang terkenal, dengan hadiah tersebut perjalanan ujian hidup Buya menjadi semakin berliku namun indah, Buya Hamka ingin berterima kasih untuk itu semua.

Lalu kemana Soekarno? Kemana teman seperjuangannya dalam memerdekakan bangsa ini menghilang? Dalam hati Buya Hamka sangat rindu ingin bertemu lagi dengan -singa podium- tersebut. Tak ada marah, tak ada dendam, hanya satu kata “rindu”.

Hari itu 16 Juni 1970, ajudan presiden Soeharto datang kerumah Buya, membawa secarik kertas, kertas yang tak biasa, kertas yang bertuliskan kalimat pendek namun membawa kebahagian yang besar ke dada sang ulama besar, pesan tersebut dari Soekarno, orang yang belakangan sangat beliau rindukan, dengan seksama Buya Hamka membaca pesan tersebut:

“Bila aku mati kelak, minta kesediaan Hamka untuk menjadi imam shalat jenazahku.”

Buya Hamka bertanya kepada sang ajudan “Dimana? Dimana beliau sekarang?” Dengan pelan dijawab oleh pengantar pesan “Bapak Soekarno telah wafat di RSPAD, jenazahnya sedang dibawa ke Wisma Yoso.”

Mata sayu Buya Hamka mulai berkaca, kerinduan itu, rasa ingin bertemu itu, harus berhadapan dengan tubuh kaku, tak ada lagi pertemuan yang diharapkan, tak ada lagi cengkrama tawa dimasa tua yang dirindukan, hanya hamparan samudera maaf untuk saudaranya, mantan pemimpinnya, pemberian maaf karena telah mempenjarakan beliau serta untaian lembut doa dari hati yang ikhlas agar Bung Karno selamat di akhirat, hadiah khusus dari jiwa yang paling lembut sang ulama besar, Buya Hamka.

Dizaman sekarang, Mulai terasa sejarah itu kembali terulang, dimana para penguasa mulai berusaha menyudutkan para ulama, menyerang para ulama melalui media-media pendukung mereka, menebar kebencian kepada para ulama melalui penulis-penulis pendukung mereka.

Lalu ada yang berkata, “ulama sekarang tak sehebat buya Hamka.” Tanya lagi hati kecil kita, apakah mereka yang tak hebat, ataukah kita yang ingin menolak pesan kebenaran itu sendiri.

Pertanyaannya:
– Di pihak siapa kita?
apakah di pihak para penguasa yang jelas sedang memuaskan nafsu duniawi mereka?
Ataukah di pihak para ulama yang menyampaikan kebenaran karena Allah, Tuhannya, Tuhan kita semua?

– Akankah para penguasa yang memfitnah para ulama saat ini, diberi kesempatan oleh Allah untuk meminta maaf sebelum ajal menjemput mereka? Semoga saja, semoga kesalahan mereka tak harus diselesaikan yaumul hisab.

Aamiin ya Robbal’alamin

#Copas

Rabu, Januari 11, 2017

Lexus Hitam

Lexus Hitam
Oleh: Monika Hartono

Beberapa hari yang lalu saya berkesempatan memberikan training di luar kota. Ketika mulai memasuki tol ke arah Sadang, di belakang saya ada sebuah mobil Lexus berwarna hitam yang melaju dengan kecepatan tinggi. Tetapi yang saya suka walaupun ia melaju dengan kecepatan tinggi, ia tidak memaksakan kehendak.

Jika mobil di depannya tidak mau memberi jalan, maka ia yang mengalah dengan mengambil jalan ke kiri dahulu baru kemudian balik lagi ke jalur kanan.

Supaya tidak ngantuk karena saya menyetir sendirian dan tertarik dengan cara menyetir si mobil hitam ini, iseng-iseng saya membuntuti mobil tersebut dari belakang. Saya ikuti cara ia menyetir, termasuk kecepatannya. Ketika tidak ada mobil lain di tol, kecuali mobil tersebut dan mobil saya, mobil hitam tersebut menambah kecepatannya. Karena sedang membututi, tanpa sadar saya ikut menambah kecepatan mobil saya.

Ketika saya melihat panel kecepatan, menunjukkan angka 160 km/jam. Padahal selama ini, kecepatan tercepat yang pernah saya tempuh adalah 140 km/jam, saya tidak berani melaju diatas itu.

Tapi dengan adanya mobil yang saya ikuti, saya bisa tembus rekor kecepatan mobil saya. Sesuatu yang sulit saya lakukan jika tidak ada sparringnya.

Karena saya berhenti di suatu tempat, saya kehilangan mobil hitam tersebut. Ketika saya mulai memacu kendaraan lagi, saya coba untuk berlari 160 km/jam lagi. Saya berhasil mencapai kecepatan tersebut tetapi tidak berani terlalu lama karena belum terbiasa.

Ketika kemudian ada mobil lain lagi yang melaju dengan kecepatan tinggi dan saya buntuti, saya bisa masuk lagi ke 160 km/jam dengan durasi yang cukup lama.

Sama seperti kehidupan ini, seringkali kita merasa sudah maksimal melakukan sesuatu. Kita merasa tidak mungkin lagi melakukan sesuatu yang lebih baik lagi. Namun kalau kita mempunyai sparring partner yang lebih hebat dari kita, entah itu seorang atasan, seorang coach, seorang mentor, role model atau apapun, maka kita bisa terpacu untuk mendapatkan hasil yang lebih baik lagi.

Namun jika kita belum matang belajar dari sparring partner kita dan mencoba untuk mandiri, mungkin agak sulit bagi kita untuk terus berada di kondisi sama seperti ketika ada sparring partner. Nantinya jika kita sudah mempunyai pola dan terbiasa, barulah kita mulai bisa mandiri.

Robert Kiyosaki mengatakan bahwa PENGHASILAN SESEORG ditentukan 5 ORG TERDEKATNYA. Ilustrasi saya mengenai kecepatan mobil bisa menjelaskan pernyataan dari Robert Kiyosaki tersebut.

Jika orang-orang di dekat kita hanya biasa-biasa saja, maka sulit bagi kita untuk melakukan sesuatu yang luar biasa. Namun kalau kita biasa tetapi di sekeliling nya luar biasa, maka kita akan terpacu untuk juga menjadi luar biasa.

Apakah ada penjelasannya secara Science ???

Ternyata ada. Di dalam otak manusia ada sekumpulan sel syaraf yang disebut Mirror Neuron, yang bertugas meniru apa yang dilakukan oleh orang lain.

Jika di sekelilingnya orang hebat atau luar biasa, maka Mirror Neuron kita akan meniru mereka sehingga menjadikan kita juga hebat dan luar biasa. Kalau sebaliknya, maka Mirror Neuron-pun juga akan meniru yang sebaliknya.

– Siapa MOBIL HITAM yang akan anda ikuti agar bisa menembus kecepatan anda selama ini ???

– Siapa ORG HEBAT dan LUAR BIASA yang akan anda ikuti agar bisa menembus batas yang selama ini membatasi hidup anda ???

TEMUKAN ORG TSB, Ikuti dan Pelajari bagaimana ia memandang dirinya, bagaimana keyakinan dan nilai-nilai kehidupan yang ia pegang, bagaimana ia membangun kapabilitasnya, bagaimana tingkah lakunya, maka anda akan mendobrak batas yang selama ini membatasi hidup anda !!! 

Cari komunitas yg bisa saling memberikan kontribusi dan memotivasi agar kita bisa selalu  berbuat yang terbaik

Pengalaman yg sangat bisa  dibuktikan dan dilakukan oleh kita.
Temukan teman "diatas rata2" dan teruslah maju. 🙏

Jumat, Januari 06, 2017

Kerutub Kepala Belido

Ternyata kerutub ikan itu rasanya seperti dendeng ya?enaaakk dan gurih..bawang putihnya terasa banget meresap sampai ke dalam...terima kasih Iwed Dewi dan yuk Yetti Rohayati sudah berbagi resep...aku mah kalau dapet resep yg pas gak pake lama hrs segera di coba...bisa jadi menu favorit nih...
#sarapan_tadi_pagi
#late_post
#kerutub_kepala_belido



Bumbu:
Merica dikit (pake perasaan)
Bawang putih 4 siung tumbuk kasar
Kencur 1 ruas jari
Daun salam
Daun sereh
Daun jeruk
Garam secukupnya
Jeruk nipis
Pengolahan :
1. Bersihkan ikan dengan air mengalir beri jeruk nipis..tiriskan
2. Balur dengan semua bumbu...baiknya di balut daun kunyit tapi tadi gak ada jadi langsung goreng
Di krotob tu artinyo  goreng pake minyak sedikit saja
Dimasak dg api kecil dan agak lama supaya bumbunyo meresep 
Enaaakkkk

Rabu, Januari 04, 2017

Sayap Ayam bumbu Rasa


Fried Chicken Wings marinade
Bahan:
- 1 kg chicken wings
Bumbu:
- 15 butir bawang putih dihaluskan
- 1 1/2 sendok makan tepung maizena
- 2 1/2  sendok makan madu (boleh skip)
- 2 sendok makan kecap manis
- 1 1/2 sendok teh kaldu bubuk
- 2 sendok makan saus tiram (boleh skip)
- 1 1/2 sendok teh Lada halus
- 1 sendok teh kunyit bubuk (2 ruas kunyit segar)
- 4 sendok teh ketumbar bubuk
- 2 ruas jahe, diparut
- 1 1/2 sendok teh garam
- 50 ml air
Note: jika tidak ada bumbu dalam bentuk bubuk anda bisa menggunakan bumbu segar yang dihaluskan jadi satu. 
Cara membuat:
1. Siapkan sayap ayam, potong di sela sendi sayap menjadi dua bagian (mau utuh juga boleh..asal marinadenya semalaman biar metesap)
2. Buang bagian ujung sayap beri garam dan air jeruk nipis, remas-remas hingga sayap menjadi kesat dan bersih. Cuci bersih dan tiriskan hingga air benar-benar habis.
3. Siapkan wadah masukkan semua bumbu, aduk hingga rata. Cicipi bumbu, jika kurang asin tambahkan garam (pake perasaan yeeee)
4. Masukkan potongan sayap ayam ke dalam bumbu. Aduk hingga semua bumbu melumuri permukaan sayap ayam. Tutup wadah  dan simpan di kulkas minimal 2 jam paling bagus selama semalaman
5. Siapkan wajan, masukkan minyak agak banyak. Goreng sayap ayam hingga matang kecoklatan dengan api kecil...hati2 mentah ya..
6. Angkat dan tiriskan kelebihan minyak dengan meletakkanya di atas tissue dapur. Sayap ayam siap disantap


Islam adalah Agama yang paling toleran

“Kalau Muslim di Indonesia intoleran, maka kaum minoritas di Indonesia nasibnya sudah seperti Muslim di Bosnia Herzegovina yang dibantai habis oleh penjagal dari Balkan bernama Slobodan Milosevic dan Radovan “jabrik” Karadzic dan dunia Barat pun diam membisu.

Kalau Muslim di Indonesia intoleran, nasib minoritas di Indonesia sudah seperti Muslim di Rohingya Myanmar, nasib minoritas di Indonesia sudah seperti Muslim Patani di Thailand Selatan dan Moro di Filipina, yang terkucilkan. Nasib minoritas di Indonesia akan seperti nasib Muslim di negara lain yang secara kuantitas minoritas, yang kerap mendapat diteror dan penistaan.

..Dalam pandangan Islam, tegas, dan jelas bahwa kemajemukan adalah keniscayaan (baca lengkap QS. Al-Hujurat). Mereka yang menuduh Muslim intoleran bisa jadi untuk menutupi penyakit intoleran yang sejatinya singgah dan bersemayam di hati mereka. Merekalah sebenarnya yang anti-Pancasila.”

————————————

Hanya karena saat ini umat muslim bangkit bergerak di media, —setelah bertahun-tahun diam menahan diri atas nama toleransi dan meniru akhlak nabi, — lalu kini menjawab, menangkis, meluruskan, melawan fitnah dan perang pemikiran, — setelah tersadar bahwa nabi pun memerangi dan mengusir tak bersisa kaum yahudi yang tidak menghormati toleransi —, maka beredarlah status baru untuk kami: “penyebar kebencian.”

And you think we’ll simply stop and give in? You’re funny that way.

Bring it on. We had it all. We’d been called “terrorists” before, any other terms now will only sound like sweet lullaby.

#MuslimRising
#IndonesiaToday